Selasa, 03 Januari 2012

Teori Membaca dalam Pembelajaran Bahasa

Pada hakikatnya membaca adalah sesuatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya sekedar melafalkan tulisan, akan tetapi dalam membaca harus memperhatikan kebiasaan cara berfikir yang teratur dan baik. Hal ini dikarenakan membaca merupakan sesuatu yang sangat kompleks, dengan melibatkan semua proses mental yang lebih tinggi, seperti ingatan, pemikiran, daya khayal, pengaturan, penerapan, dan pemecahan masalah (Iskandarwassid dan Sunendar 2008: 246)

1.    Pengertian Membaca
 Supaya memahami lebih jelas mengenai pengertian membaca, maka perlu memperhatikan berbagai pandangan ahli bahasa.
Hodgson (Tarigan H.G. 2008: 7) mengemukakan bahwa:
  Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh pemberi pesan.” Proses ini menuntut agar kelompok kata yang merupkan suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas dan agar makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui, apabila hal ini tidak terpenuhi maka pesan yang tersirat tidak akan dapat dipahami dengan jelas, proses membaca tidak akan terlaksana dengan baik.

Berdasarkan pemaparan Hudgson terkait dengan membaca, maka dapat diketahui bahwa dalam membaca, selain sebagai proses visual untuk menterjemahkan simbol tulisan ke dalam bunyi, maka membaca pun merupakan suatu proses berpikir yang mencakup pengenalan kata, pemahaman literal interpretasi, membaca kritis (critical reading), dan membaca kreatif (creative reading).
Senada dengan pendapat Hudgson, maka Finochiaro and Bonomo (Tarigan H.G. 2008: 9) mengatakan bahwa membaca adalah “bringing meaning to and getting  meaning from printed or written materrial. Jika dicermati dari pemaparan devinisi membaca yang disampaikan oleh Finochiaro and Bonomo tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa membaca sebagai upaya untuk memetik atau mengambil serta memahami makna yang terkandung didalam bacaan yang sedang dibaca.
         Selain beberapa pendapat yang disampaikan oleh Hudgson kemudian Finochiaro dan Bonomo, ada juga seorang ahli yang memaparkan pendapatnya mengenai membaca sebagai suatu proses komunikasi mengenal lambang. Akan tetapi tidak selesai sampai disana, setelah mengenali lambang tersebut sipembaca bermaksud memperoleh makna dibalik lambang yang dituliskan. Seperti apa yang di ungkap Sulistiati dkk. (Tarigan dkk. 1990: 118) menyebutkan bahwa:
  Membaca juga dapat diartikan sebagai proses perbuatan yang dilakukan dengan sadar dan bertujuan untuk mengenal lambang yang disampaikan penulis untuk menyampaikan makna. Makna itu digunakan untuk tujuan membaca. Membaca merupakan metode yang digunakan untuk berkomunikasi atau untuk mengkomunikasikan makna yang terkandung dalam lambang-lambang tertulis.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, penulis simpulkan bahwa membaca adalah suatu kegiatan untuk mendapatkan makna dari suatu bacaan mengungkapkan atau melafalkan kata-kata dan bunyi ujar yang diperoleh secara tepat dan bermakna yang melibatkan pikiran, penglihatan, pembicaraan, dan perasaan yang dipahaminya.

2.    Membaca Sebagai Suatu Keterampilan
Membaca merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa, untuk menguasainya memerlukan proses yang sangat kompleks dengan mengerahkan sejumlah tindakan baik ataupun mental. Menurut Burns dkk. (Rahim F. 2005: 12), ‘proses membaca terdiri atas Sembilan aspek, yaitu sensori, perseptual, urutan, pengalaman, pikiran, pembelajaran, asosiasi, sikap, dan gagasan’.
Kegiatan membaca berbeda dengan kegiatan lainnya, berupa keterampilan berbahasa yaitu keterampilan menyimak, menulis, dan berbicara. Buzan (Hernowo 2004: 19) membuat  ‘tujuh tahapan proses dalam kegiatan membaca, yaitu: (1) pengenalan (2) peleburan (3) intra integrasi (4) ekstra integrasi (5) penyimpanan (6) pengingatan (7) pengkomunikasian’.
Pada saat membaca, pembaca dituntut menganalisa dan memahami lambang-lambang tulisan yang melibatkan kemampuan penalaran. Oleh karena itu, keterampilan membaca bukanlah suatu proses yang pasif, melainkan proses aktif yang membutuhkan daya berpikir yang logis dan sistematis. Hal ini dipertegas oleh pernyataan dari Tampubolon (2008: 7) bahwa membaca adalah suatu cara untuk membina daya nalar.

3.    Tujuan Membaca
Tarigan (2008: 9) menyebutkan bahwa “Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi dan memahami makna bacaan”. Supaya lebih memahami lagi mengenai tujuan dari membaca,  lebih jauh Tarigan (2008: 9-11) memaparkan beberapa poin yang dijadikan tujuan oleh seseorang untuk melakukan aktivitas  membaca, diantaranya sebagai berikut:
a.    Membaca untuk menemukan atau mengetahui penemuan yang telah dilakukan oleh sang tokoh. Membaca seperti ini disebut juga membaca untuk memperoleh perincian atau fakta-fakta.
b.    Membaca untuk memperoleh ide-ide utama. Membaca seperti ini untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang baik dan menarik.
c.    Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi. Membaca seperti ini bertujuan untuk mengetahui urutan atau susunan organisasi cerita.
d.   Membaca untuk menemukan atau mengetahui perasaaan pengarang. Membaca seperti ini bertujuan untuk menyimpulkan
e.    Membaca untuk mengelompokkan atau mengklasifikasikan. Membaca seperti ini bertujuan untuk mengelompokkan atau mengklasifikasikan.
f.     Membaca untuk menilai atau mengevaluasi. Membaca seperti ini bertujuan untuk menilai, atau membaca mengevaluasi.
g.    Membaca untuk membandingkan atau mempertentangkan. Membaca seperti ini bertujuan untuk memperbandingkan atau mempertentangkan.

4.    Jenis-jenis Membaca
Membaca merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif, karena dengan membaca seseorang akan dapat memperoleh informasi, memperoleh ilmu pengetahuan serta pengalaman-pengalaman baru. Sebagaimana yang dikmukakan Iskandarwassid dan Sunendar (2008: 245) mengenai keterampilan membaca, bahwa:
  Keterampilan membaca pada umumnya diperoleh dengan mempelajarinya di sekolah. Keterampilan berbahasa ini merupakan keterampilan yang sangat unik serta berperan penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan, dan sebagai alat komunikasi bagi kehidupan manusia. Dikatakan unik karena tidak semua manusia, walaupun telah memiliki keterampilan membaca, mampu mengembangkannya menjadi alat untuk memberdayakan dirinya atau bahkan menjadikan budaya bagi dirinya sendiri. Dikatakan penting bagi pengembangan pengetahuan, karena presentase transfer ilmu pengetahuan terbanyak dilakukan melalui membaca.

  Semua informasi, ilmu pengetahuan dan pengalaman-pengalaman yang diperoleh melalui bacaan memungkinkan orang akan mempertinggi daya pikirnya, mempertajam pendengarannya dan memperluas wawasannya. Dengan demikian kegiatan membaca dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, yaitu membaca nyaring, membaca dalam hati, membaca telaah isi, dan membaca telaah bahasa. Secara lebih jelas, jenis membaca dapat diuraikan sebagai berikut :

a.    Membaca Nyaring
Secara sederhana membaca nyaring dapat di maknai dengan melakukan aktivitas membaca dengan mengeluarkan suara. Tarigan (2008: 23) menyebutkan definisi dari membaca nyaring, sebagai berikut:
  Membaca nyaring adalah suatu aktivitas atau kegiatan yang merupakan alat bagi guru, murid, ataupun pembaca bersama-sama dengan orang lain atau pendengar untuk menangkap serta memahami informasi, fikiran dan perasaan seorang pengarang.

Menyambung pemaparan definisi membaca nyaring oleh Tarigan, Moulton (Tarigan 2008: 23) menjelaskan ada perbedaan antara membaca dalam hati dengan membaca nyaring. Ketika melakukan aktivitas membaca pemahaman melibatkan penglihatan dan ingatan sedangkan dalam membaca nyaring, selain penglihatan dan ingatan, juga turut aktif auditory memory (ingatan pendengaran) dan motor memory (ingatan yang bersangkut paut dengan otot-otot kita).
Berdasarkan pendapat yang di paparkan oleh Tarigan dan Moulton dapat disimpulkan bahwa membaca nyaring merupakan kegiatan membaca secara bersama melibatkan lebih dari satu orang, untuk memahami bacaan yang ditulis oleh pengarang dengan mengoptimalkan kerja pengihatan, pendengaran dan otot-otot tubuh.


b.    Membaca Dalam Hati
Menurut Tarigan (2008: 32) membaca dalam hati secara garis besar dibagi atas: (1) membaca ekstensif dan (2) membaca intensif. Membaca ekstensif berarti membaca secara luas suatu  teks dalam waktu yang sesingkat mungkin. Kegiatan membaca ekstensif adalah kegiatan membaca untuk memahami isi yang penting dengan cepat dan efisien dalam suatu bacaan. Kegiatan membaca ekstensif meliputi: (1) membaca survey (2) membaca sekilas dan  (3) membaca dangkal, Broughton et al. (Tarigan, 2008 : 32).
Menurut Brooks (Tarigan, 2008: 36) membaca intensif adalah studi seksama, telaah isi, dan penanganan terperinci yang dilaksanakan di dalam kelas terhadap suatu tugas yang pendek dua sampai empat halaman setiap hari. Kegiatan membaca intensif meliputi: (1) membaca telaah isi dan  (2) membaca telaah bahasa.
Membaca dalam hati sebenarnya merupakan kegiatan membaca untuk orang dewasa. Di sekolah dasar jenis membaca dalam hati belum dapat diberikan secara mutlak dan baru bersifat pelatihan. Pembelajaran membaca dalam hati di sekolah dasar bertujuan untuk mendapatkan informasi dari suatu bacaan dengan memahami isinya secara tepat dan cermat. Untuk mencapai sasaran membaca dalam hati, anak-anak sekolah dasar hendaknya menguasai keterampilan-keterampilan sebagai berikut: (1) membaca tidak bersuara (2) membaca tanpa disertai gerakan-gerakan anngota badan (3) membaca dengan tidak merisaukan isinya meskipun tidak cocok (4) berkonsentrasi fisik dan mental, serta (5) dapat mengungkapkan kembali isi bacaan.
c.    Membaca Telaah Isi
Membaca telaah isi cenderung untuk dilakukan oleh semua orang yang menemukan ketertarikan pada bahan bacaan yang telah dibacanya dengan sekilas. Biasanya pembaca pembaca ingin menelaah isinya secara mendalam dan tertarik untuk membacanya dengan teliti. Tarigan (2008: 40) menyebutkan bahwa “Menelaah isi sesuatu bacaan menuntut ketelitian, pemahaman, kekritisan berfikir, serta keterampilan menangkap ide-ide yang tersirat dalam bacaan”. Dari pendapat Tarigan tersebut kita dapat membagi aktivitas dari memmbaca telaah isi menjadi beberapa aktivitas membaca, diantaranya: (a) membaca teliti, (b) membaca pemahaman, (c) membaca kritis, dan (d) membaca ide.
Selanjutnya jika dicermati lebih dalam mengenai pendapat yang dipaparkan Tarigan, bahwa membaca telaah isi merupakan suatu aktivitas membaca untuk menangkap informasi penting dari suatu bacaan yang menarik perhatian pembaca, dengan melibatkan pemahaman, keterampilan menangkap ide bacaan serta ketelitian dalam membaca bahan bacaan.
d.   Membaca Telaah Bahasa
Membaca telaah bahasa atau content study reding mempunyai kesamaan dengan pelajaran membaca dalam hati. Aktifitas kedua kegiatan membaca tersebut dilaksanakan dengan tidak bersuara.
Menurut Muchlisoh dkk. (1996: 152-156) tujuan membaca telaah bahasa secara rinci adalah sebagai berikut : (1) bertambahnya kosakata yang dimiliki siswa dan (2) bertambahnya pengetahuan tata bentukan kata, tata kalimat, tata tulis dan semantik siswa.
Selain dari beberapa tujuan khusus membaca telaah bahasa seperti yang disampaiakan Muchlisoh dkk, maka kitapun perlu mengetahui bahwa tujuan utama membaca telaah bahasa adalah untuk memperbesar daya kata dan mengembangkan kosa kata. Setiap orang mempunyai dua jenis daya kata yaitu : (1) dipergunakan dalam berbicara dan menulis dan (2) dipergunakan dalam membaca dan menyimak (Tarigan (2008: 123).
Dari pendapat yang dipaparkan Muchlisoh dkk ataupun Tarigan, keduanya brmaksud menyampaikan bahwa membaca telaah bahasa adalah suatu proses membaca untuk menambah perbendaharaan kata serta bertambahnya pengetahuan tata bentukan kata.
Bahan yang dipakai dalam pembelajaran membaca telaah bahasa dapat diambil dari beberapa sumber, misalnya: dari bekas bahan yang digunakan dalam membaca teknik, bahan yang dipakai dalam membaca dalam hati, atau bahan lain yang sifatnya masih baru. Sumber bahan dapat diperoleh dari sumber bahan buku paket, buku rujukan, majalah, dan sebagainya. Isi bahan dalam kegiatan membaca bahasa dapat berupa bahan yang menyangkut masalah ilmu pengetahuan alam, sosial, budaya, dan kesusastraan. Adapun yang perlu diingat dalam kegiatan membaca bahasa adalah bahan yang akan digunakan harus memuat struktur bahasa.
 
Oleh: Indra Rakhman, S.Pd.
[Rakhman, Indra (2010) Model Multiple Intelligences dalam Pembelajaran membaca Pemahaman di Kelas V Sekolah Dasar: Bandung. SKRIPSI Tidak Diterbitkan]
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda, terima kasih...