Minggu, 22 Januari 2012

Hima Pensatrada Gelar Riksa Budaya Sunda (RBS) 2012

Bandung, UPI. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Mahasiswa Pendidikan Basa jeung Sastra Sunda (Hima Pensatrada) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar “Riksa Budaya Sunda (RBS) 2012”, Kamis dan Selasa, 16 dan 21 Februari 2012 pukul 8.00 s.d. selesai di Kampus UPI Jln. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung dan Jalan Merdeka-Gedung Sate. “Kegiatan bertema, Hirup Basana, Hurip Budayana, Dipake Basana, Waluya Budayana juga menggelar pasanggiri yang pendaftarannya mulai dilakukan 15 Januari-15 Februari 2012 di Sekretariat Hima Pensatrada FPBS UPI Jln. Dr. Setiabudi No. 229 Gd. FPBS Baru Lt.2 UPI Bandung. Pendaftar juga bisa melalui e-mailriksabudayasunda2012@gmail.com,” kata Diky Arliana, penanggung jawab, Pupuhu BEM Hima Pensatrada, di Bandung, Sabtu (21/1/2012).


Pendaftaran  Bazaar dilakukan 15 Januari-15 Februari 2012 di  Sekretariat Hima Pensatrada FPBS UPI Jln. Dr. Setiabudi No. 229 Gd. FPBS Baru Lt.2 UPI Bandung Pelaksanaan Pasanggiri dilaksanakan Senin-Jumat (27 Februari-2 Maret 2012)  pukul 8.00 s.d. selesai di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) UPI. Sedangkan pelaksanaan Malam Apreasi Seni dilaksanakan Sabtu (3 Maret 2012) pukul 19.00 s.d. selesai di Gedung Amphiteater UPI.


BEM Himpunan Mahasiswa Pendidikan Basa jeung Sastra Sunda (Hima Pensatrada) merupakan organisasi intrauniversiter yang berada di lingkungan Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah (JPBD) Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Layaknya sebuah organisasi, BEM Hima Pensatrada memiliki arahan dan tujuan yang ingin dicapai baik secara konstitusional ataupun konvensional.


“Secara konstitusi jelas BEM Hima Pensatrada memiliki tujuan yaitu membangun insan akademis yang kritis, religius dan revolusioner sehingga mempunyai rasa tanggung jawab dan berpartisipasi aktif dalam mewujudkan pembangunan nasional,” ujar Diky Arliana.


Secara konvensi, kata dia, mereka memiliki tanggung jawab moral terhadap perkembangan dan penjagaan bahasa, sastra serta aksara daerah atau secara umumnya pengembangan dan penjagaan terhadap budaya daerah. Kedua hal ini yang kemudian menjadi fokus dalam organisasi BEM Hima Pensatrada.


Diky Arliana mengatakan, untuk mencapai tujuan itu, maka pembinaan dan pengembangan dalam segala hal sangat dibutuhkan. Tidak hanya dalam wilayah kemampuan berorganisasi kami bina dan kembangkan, tapi juga wilayah keterampilan serta pembinaan minat dan bakat pun dikembangkan. Hal ini dimaksudkan untuk mencapai tujuan secara konstitusi dan tujuan secara konvensi.


Hal ini terbukti didalam tubuh organisasi BEM Hima Pensatrada yang mana di dalamnya terhimpun beberapa komunitas seni yaitu “Lingkung Seni Sunda” (Lisenda), “omunitas Teater “Sanggar Mahasiswa Basa Sunda” (Sambada), komunitas sastra Turus dan komunitas pecinta alam Keluarga Pecinta Lingkungan Hidup (KPLH) Pancaksuji yang bergerak pada bidang penelitian budaya.


“Untuk memenuhi kemampuan berorganisasi kami memiliki wadah tersendiri di antaranya Pendidikan dan Penalaran (Diklar), Sosial jeung Pengkaji Kebijakan (Sosjak). Adanya pembentukan dalam tubuh BEM Hima Pensatrada merupakan sebuah tarékah untuk memfokuskan diri dalam bekerja sehingga ini menjadi sebuah media untuk mengembangkan kemampuan serta keterampilan baik dalam hal organisasi dan berseni. Lebih jauhnya hal ini diharapkan mampu menjadi media pelestarian, pengembangan serta penjagaan terhadap budaya Sunda,” ujar Diky Arliana.


Adapun bentuk kegiatan yang lebih konkret yang setiap tahun dilaksanakan secara berkelanjutan di antaranya sawala (diskusi), seminar dan loka karya daerah, penelitian, pagelaran bahasa, seni dan budaya, penerbitan buletin Sunda (Buletin Turus), pengabdian pada masyarakat (P2M), helaran (kampanye) memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional dan Riksa Budaya Sunda (RBS).


Penjagaan Kebudayaan Daerah

Diky Arliana menjelaskan, penciptaan kebudayaan Nasional terbentuk dari berbagai komponen yang terhimpun menjadi satu, yakni dari kedudayaan daerah. Sebagai penunjang dan peran yang sangat penting  demi terciptanya tatanan kebudayaan nasional yang kondusif dan produktif, diperlukan penjagaan keberadaan aset kebudayaan daerah itu.


“Perkembangan dan kemajuan zaman telah menggerus jati diri sebagai sebuah bangsa yang memiliki keberagaman budaya daerah yang sarat akan keragaman khas dalam setiap unsurnya. Budaya Sunda sebagai salah satu kebudayaan yang berkembang dan menjadi salah satu komponen kebudayaan nasional, kini telah terkikis sedikit demi sedikit oleh arus globalisasi,” ujar Diky Arliana.


Hal yang paling terlihat dari mulai terkikisnya budaya Sunda adalah semakin jarangnya penggunaan bahasa yang merupakan aspek terkuat dari budaya, digunakan dalam kehidupan sehari-hari terutama di kalangan generasi muda. PBB sebagai Organisasi Negara se-dunia pun telah melihat fenomena ini sebagai sebuah masalah besar, resolusinya dengan mengusung memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional yang ditetapkan pada tanggal 21 Februari.


“Begitupun dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menanggapi dan mengantisipasi hal tersebut dengan dikeluarkannya Perda Nomor 5  tahun 2003 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah,” kata Diky Arliana.


Untuk menghadapi kondisi di atas, diperlukan peran serta masyarakat di berbagai lapisan, untuk mengambil ranah posisi dalam rangka mewujudkan kelestarian budaya Sunda, yang tercakup di dalamnya bahasa, sastra dan aksara daerah. Juga hal  yang paling bisa diterima masyarakat secara instant melalui kesenian daerah.


“Begitu hal nya dengan kami, BEM Hima Pensatrada FPBS UPI sebagai salah satu organisasi mahasiswa yang menyadari hal tersebut, dan berusaha untuk berperan serta aktif dalam mewujudkan kelestarian serta penjagaan budaya Sunda sebagai salah satu ranah yang paling penting, dengan sebuah kegiatan yakni Riksa Budaya Sunda (RBS) 2012,” kata Diky Arliana selanjutnya. (WAS)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda, terima kasih...